Sebuah Kado Sederhana

Sebuah Kado Sederhana

Sebuah kado sederhana kupersembahkan untukmu.

Sebuah kado sederhanaku adalah doa. Doa yang kupanjatkan setiap hari agar kau kelak akan menjadi seseorang yang “sesuatu” dari sekarang yang “bukan apa-apa”.

Sebuah kado sederhanaku adalah bayangan. Bayangan semu yang akan terus ada di sampingmu untuk selalu mendukung apapun yang kau lakukan.

Sebuah kado sederhanaku adalah dorongan. Dorongan untuk membuatmu lebih baik dari sekarang ini.

Sebuah kado sederhanaku adalah kekuatan. Kekuatan untuk membuat mu lebih bisa menghadapi semua tantangan hidup yang sekarang ini ada.

Sebuah kado sederhanaku adalah senyuman. Senyuman jauh yang kusimpul setiap hari disini, mendengar ceritamu yang sangat antusias oleh apapun yang kau lakukan sekarang.

Sebuah kado sederhanaku adalah  semangatku. Semangatku untuk menyemangati hari-hari kamu yang sangat berarti.

Sebuah kado sederhanaku adalah harapan. Harapan agar kau bisa menggantungkan cita-citamu di depan kening agar bisa kau gapai.

Sebuah kado sederhanaku adalah catatan. Catatan untuk kau ketahui bahwa hidup bukanlah sesuatu yang gampang. Hidup adalah sesuatu tantangan yang harus kita lalui.

Selamat ulang tahun kamu, Tri Budi Ramdani. Doaku selalu menyertai semua apapun yang kamu kerjakan. Semua apapun yang terbaik. Semua apapun yang kau suka. Semua apapun yang kau putuskan. Baik itu positif atau negatif.

Biarkan seperempat abad usiamu kau isi dengan semua hal yang kau suka. Kejar semua, raih semua. Jangan pernah kalah sama impian. karena semua impian akan bisa terwujud nyata jika kita sungguh-sungguh. Man Jadda Wa Jada.

Semoga Allah mendengar doamu yang kau panjatkan tiap hari.

Aku mendukungmu disini.

(Blog telat di publish, padahal niatnya tanggal 13 Mei 2012).

Kopi yang sudah tak bergula.

Kopi yang sudah tak bergula.

Saya memang tak suka kopi. Saya bukanlah pecinta kopi. Untuk urusan dibelikan apalagi membeli kopi sendiri adalah hal yang sangat mustahil. Walaupun orang-orang berkata kopi adalah penawar kantuk, penyegar badan di pagi hari dan penghilang stress saya malah kurang sependapat dengan semua tanggapan mereka para pecinta kopi.

Menurut saya kopi itu aneh. Campuran manis dan pahitnya serasa semu. Apalagi kopi hitam. Ya, saya memang membenci kopi hitam. Warnanya yang pekat dan mempunyai manis yang aneh membuat saya tidak mau lagi meminumnya.

Dan, ternyata kopi susu yang memang masih bisa saya terima di tenggorokan kini berubah jadi kopi hitam. Saya harus meminumnya dengan sedikit gula. Tidak ada tambahan gula sedikitpun untuk memaniskan tenggorokan ini. Semuanya pahit dan memang harus ditelan.

Kopi hitam itu saya coba beri sedikit gula dan nyatanya manisnya aneh dan terasa semu. Saya merasa muak dengan kopi hitam. Sekarang kopi itu tak bisa diberi sedikit pemanis. Hitam ya tetap hitam. Pahit ya tetap pahit.

Hidup akan terus berjalan walaupun kopi hitam tak bisa diberi gula lagi.

Hidup antara YA atau TIDAK

Hidup antara YA atau TIDAK

Menjadi seorang perempuan dewasa tidaklah semudah yang dibayangkan. Banyak sekali pilihan yang harus dijalani membuat logika dan perasaan ikut berperan membaur menjadi sebuah keputusan.

Tidak selamanya pilihan YA dalam hidup adalah sesuatu yang tepat bagi kita. Juga berlaku untuk TIDAK yang mempunyai arti kurang tepat bagi kita. Semuanya ada di dalam sanubari masing-masing. Pilihan itu tidak bisa diambil sekaligus 2. Ada salah satu hal yang harus dikorbankan demi suatu nilai kebutuhan. Inilah fase kehidupan wanita dewasa yang mau tidak mau harus dijalani.

YA atau TIDAK adalah sesuatu yang sulit jika terjadi dalam keadaan sangat serius. Bisa juga dikatakan sangat mudah jika terjadi dalam keadaan biasa saja. Jangan pernah menyalahgunakan penggunaan YA atau TIDAK dalam hidup ini. Bisa saja mengandung arti yang fatal.

Bagaimana pilihan ‘atau’ yang ada di tengah-tengah YA & TIDAK? Jangan salah, itu banyak digunakan oleh orang-orang yang belum bisa memberikan kekuatan antara YA & TIDAK. Apapun itu, sebuah YA atau TIDAK adalah penentu lelanjutannya sebuah kehidupan. Pemikiran jernih akan membuat kita cepat meramalkan datangnya YA atau TIDAK.

Dan keputusan saya adalah saya TIDAK akan begadang dan harus tidur setelah post ini terbit. Selamat malam.

UN: Antara Pengalaman dan Ketentuan

UN: Antara Pengalaman dan Ketentuan

Menjadi pengawas UN adalah hal baru bagi saya yang notabene bukan menjadi guru sesungguhnya dalam sebuah lembaga pendidikan resmi milik pemerintah atau swasta. Saya hanyalah pendidik yang berjuang dari satu lembaga kursus ke lembaga kursus lainnya untuk mencari sebuah pengalaman mengajar yang pasti akan berbeda-beda dari setiap tempatnya.

Menjadi pengawas UN pun ternyata tidak semudah yang kita bayangkan. Jika bayangan yang dihadirkan hanya mengawas, duduk diam dan mengisi administrasi, itu ternyata salah. Dalam menjadi pengawas UN kita juga dituntut untuk membuat para siswa yang diawas bisa mengerjakan administrasi jawaban dengan benar. Cek dengan teliti semua kelengkapan siswa jika misalnya ada kesalahan dalam penulisan dan lain-lain. 

 

Sistem UN sekarang sangatlah berbeda dan menyulitkan. Jumlah tipe soal pun menjadi 5 tipe. Apakah dengan adanya tipe soal yang sangat beragam akan membuat anak ketakutan? Toh semua UN pastilah sama. 

Image

                                                              denah soal

Image

                                                              5 tipe soal UN

Un tahun 2012 yang memang adalah UN pertama bagi saya untuk berpartisipasi di dalamnya sangatlah ribet. Adanya beberapa amlop di dalam amplop yang disegel, adanya pakta integritas untuk pernyataan pengawas yang untuk mentaati peraturan yang berlaku, adanya denah soal untuk dibagikan siswa yang setiap hari pasti beda (ini bisa dibilang kaya kunci jawaban ketimbang denah soal) dan semua tek tek bengek yang harus kita lakuin memang terasa baru dimata saya. 

 

Kenapa harus ada UN? Itulah pertanyaan yang menguak setelah itu. Padahal menurut saya, sesulit apapun pemerintah memikirkan bagaimana sistem UN selanjutnya dan selanjutnya akan berlangsung, Un pasti akan sama dengan hasil yangs seperti itu juga. Ada kabar bahwa UN tahun berikutnya akan lebih sulit dari yang sekarang? Coba kita lihat nanti bagaimana pelaksanaannya.

 

UN tahun ini dilaksanakan dengan sistem lebih ketat dari sebelumnya. Ada bahkan beberapa sekolah memasang cctv agar siswanya tidak berbuat kecurangan dalam UN. UN itu berlangsung seperti layaknya ada perang dunia, menurut saya. Polisi dimana-mana. Mau ambil soal ada polisi, di setiap sekolah ada polisi, dimana-mana polisi berjaga menjaga kerahasiaan dan ketertiban soal UN. 

Soal UN layaknya presiden kala itu.

 

Apapun itu keputusan pemerintah untuk terus memberlakukan UN pada akhir sekolah, yang penting disini, saya pernah mempunyai pengalaman bagaimana menjadi seorang pengawas. Seru dan pastinya bertemu dengan teman baru. 

 

Terimakasih semua guru dan staff SMK Yudha Utama telah memberi saya dan teman-teman lainnya kesempatan untuk menjadi pengawas UN. Semua pengalaman akan terkecap dengan baik di ingatan.

Selamat untuk para siswa SMA dan SMK juga sederajat yang telah menyelesaikan UN. Tahap kehidupan kalian masih panjang. Raih cita-cita sesuai kemampuan.

Untuk siswa SMP dan SD yang belum melaksanakan UN, ayoo belajar yang giat ya. Jangan pernah takut dengan UN. Kalau kalian belajar dengan tekun, insya allah semuanya pasti lancar.

Selamat ulang tahun, wahai pelita hidup.

Selamat ulang tahun, wahai pelita hidup.

Sisa umurnya berkurang 1 lagi tahun ini. Di usianya yang menginjak 51 tahun ibu masih tetap berkarya membuat semua orang mencintainya. Mencintai dengan rasa tulus tanpa pernah putus.

Di usianya yang 51 ini, saya belum juga cukup membanggakan beliau. Kado istimewa yang dia mau pun bukan suatu perkara yang dia inginkan. Dia hanya menginginkan doa tulus untuknya dan kehidupannya kelak. Itulah kado terindah yang dia harapkan.

Untukmu pelita hidupku. Aku akan berusaha membuat apapun yang kau rasa buatmu bahagia.

Untukmu pelita hidupku. Apa yang aku harus lakukan agar semua permata intan berupa kasih sayang tulus bisa terbalas semua sampai umurku hampir seperempat abad ini?

Untukmu pelita hidupku. Rasa ingin memilikimu sangatlah tinggi, yang membuatku tak akan mau meninggalkanmu dan ditinggalkanmu begitu lama.

Untukmu pelita hidupku. Doaku hanya engkau bisa menjadi pribadi yang lebih solehah, sehat dan terus dilapangkan rizkynya dan tetaplah jadi intan permata hidupku.

Aku mencintaimu lebih dari kemarin. Walaupun pipi halusmu dan tanganmu sudah mulai menampakkan keriput,aku tak peduli. Kau tetap wanita pembawa terang kedamaian. Membencimu adalah hal yang mustahil. Wajah lembutmu meneduhkan hati ini dan jiwa ini.

Selamat ulang tahun, pelita hidupku ibuku tercinta.

Surat untuk Mamah

Surat untuk Mamah

Mah, seneng deh aku masih bisa diketemuin lagi sama mamah. Mamah harus tau, kalo belakangan ini mamah suka ngajak aku ketemuan, rasanyaa seneeeng banget pengen buru-buru ketemu. Meluk mamah sekarang udah ga canggung lagi, walaupun pertama kali rasanya aneh (malu sih sebenernya).

Mah, nama aku kan Mita. Kenapa kalo mamah sayang sama aku, nama aku berubah jadi ‘kenok’? Itu engga banget, Mah. Kenapa manggilnya engga marsya gitu? Hihihi. Mah, makasih buat semua perhatian dan kasih sayangnya. Rasanya seneng deh dapet perhatian dari mamah walaupun hanya sederhana. Kapan semuanya akan abadi, Mah? Bisakah semua kasih sayang mamah buat aku tetep selamanya dan tanpa jarak? Atau suatu saat akan putus dan tak akan tersambung lagi? Rasanya sakit kalau denger itu.

Semua cerita dan harapan Mamah, pasti aku inget dan selalu dipikirin belakangan ini. Mamah tetep berdoa ya, agar semua harapan mamah bisa terkabul. Aku juga pasti pengen dapet yang terbaik menurut Allah. Mamah selalu menggebu-gebu kalo nyeritain harapannya buat masa depan. Ah, aku pengen bener-bener ada dan nyata di harapan mamah itu. Pasti mamah bahagia termasuk aku. Tapi Mah, kalau tiba-tiba harapan mamah ga bisa terwujud gimana? Kita ga akan ketemu lagi? Aku ga bisa peluk mamah lagi dong? Mamah jangan nangis ya. Kalau mamah nangis, aku juga jadi ikut sedih. Walaupun aku tau, aku yang bakal tertegun diam dan agak lama.

Satu hal yang cuma pengen aku bilang, makasih Mah udah ngelahirin sosok laki-laki bungsu yang pendiam yang paling mamah sayangin sampe saat dia udah hampir seperempat abad. Laki-laki itu tanpa embel-embel ternyata udah jadi guru nya ‘guru’ tentang arti kehidupan dalam sisi positif. Insya allah, laki-laki itu kelak akan jadi calon suami yang baik untuk siapapun.

Kalimat terakhirku untuk mamah: Aku menyayangimu dan anak lelaki bungsumu.

Guru: Pengajar Materi dan Moral

Guru: Pengajar Materi dan Moral

Pagi ini saya sedang kebingungan akut. Bagaimana tidak, materi mengajar yang harus saya siapkan hari ini belum bisa benar-benar dirancang. Merancang materi pembelajaran agar siswa mengerti, bukanlah perkara yang mudah. Situasi dan kondisi siswa harus juga kita perhatikan kala mengajar. Mengajar pun tidak harus sepenuhnya siswa yang mendengar. Kali ini, siswa lah yang seharusnya kebanyakan bekerja. Guru adalah seorang fasilitatornya.

Menjadi fasilitator juga bisa sempurna dengan adanya persiapan media. Media pembelajaran yang menarik dan tidak membosankan akan membuat siswa tertarik belajar. Ah, masalahnya saya bingung, apakah media yang akan saya pakai nanti akan membuat siswa tertarik? Belum tentu juga hal yang menarik menurut saya, akan menarik juga dimata siswa. Bagaimana kalau ternyata hal yang menarik itu malah menjadikan siswa tidak mengerti? Itu menurut saya bisa dikatakan guru yang hanya pintar sendiri.

Saya teringat obrolan saya dengan Manager HRD tempat les saya bekerja “kamu kalau jadi tentor (sebutan guru di tempat les itu) juga harus siap ngajarin moral buat mereka, moral buat bikin mereka percaya diri ngomong bahasa inggris”. Saya tertegun disana. Menjadi seorang guru ternyata tanggung jawabnya banyak. Dan, itu harus menjadi sebuah pencapaian kalau kita ingin dibilang guru yang sukses.

Ya, saya memang seorang guru les Bahasa Inggris di sebuah lembaga kursus. Guru les memang beda dengan guru sekolahan. Mengajar di les, tidak akan dipusingkan dengan bagaimana membuat silabus dan rpp. Walaupun sebenarnya, saya rindu membuat hal-hal seperti itu. Tapi, guru les juga punya beban, bagaimana dia bisa mengajarkan siswa untuk lebih bisa mengerti dan paham tentang pelajaran dari pengajaran di sekolah. Ga ngerti? Sama. Hahahaha. Intinya, siswa harus lebih pintar kalau mereka mengikuti les. Itu sih, sepertinya.

Lah, terus, kenapa ini nge blog bukannya cari materi? Entah. Dengan mencoba menulis mencurahkan segala kepenatan tentang persiapan materi, saya merasa lega tak terkira. Itu lebay.

Yang pasti, semua pekerjaan yang telah kita lakonin, sebaiknya kita lakukan dengan sebaik-baiknya. Karena Allah akan membantu kala kita sedang susah ataupun senang. Yuuuk, bersyukur.

Berita Keras

Berita Keras

Baru saja beberapa menit yang lalu saya menyaksikan sebuah acara berita yang disiarkan oleh stasiun tv swasta isinya hampir semua tentang kekerasan. Takut rasanya melihat isi-isi berita tersebut yang membuat saya berdecak ngeri. Inikah jiwa-jiwa manusia sekarang? Penuh dengan amarah dan berontak yang bisa mengakibatkan sesuatu hal yang sadis.

Sebenarnya saya miris dengan adanya penayangan berita anarkis yang disiarkan jam-jam segini. Bagaimana tidak, bisa aja kan seorang anak kecil nonton nemenin ibunya nonton berita itu. Dan biasanya anak kecil itu gampang terpengaruh oleh daya visual yang mereka lihat. Mengerikan.

- Pembunuhan sadis dilakukan oleh seorang pria terhadap kekasih gelapnya.

- Tawuran antar mahasiswa di Jakarta.

Rasanya miris banget ya liat berita beginian di siang hari. Kalo orangnya ga kuat iman terus kebanyakan nonton berita seperti ini gimana? Bisa-bisa dia ngikutin apa yang dia tonton di berita.

Kenapa acara anarkis seperti ini tidak ditayangkan pada malam hari? Kenapa harus di siang hari?

Saya memang tidak akan menyalahkan si pemburu berita. Para jurnalis adalah orang hebat yang pemikirannya selalu tidak pernah berhenti berfikir tentang menulis dan mencari. Berita memang sajian informasi, tetapi tempatnya kadang ada yang ga tepat.

Ini saya memang belum terlalu mendalami kajian jurnalistik yang memang sangat menarik. Tapi, secara kasat mata, penyajian berita yang tidak pada tempatnya bisa menimbulkan sisi-sisi negatif pada si penontonnya.

Berita di jam-jam seperti ini seharusnya bisa membuat para penonton merasakan sisi positif yang bisa diambil. Seperti berita tentang informasi teknologi, bidang kreatifitas manusia. Pendalaman juga penambahan ilmu pengetahuan. Hal yang telah saya sebutkan tadi bisa menambah hal-hal positif dalam diri si penonton.

Sampai saat ini saya memang ingin mencari pengetahuan dan wawasan baru mengenai berita. Jurnalistik adalah bidang yang sedang saya teliti untuk mengembangkan hobi saya. Menjadi jurnalis itu hobi? Bisa saja, karena dunia menulis itu biasanya banyak tersedia dalam bidang jurnalistik.

Untuk para jurnalis yang membaca blog saya, no heart feeling ok. Saya hanya beropini. Tapi saya percaya, kalian para jurnalis yang saya kenal memang jurnalis yang handal kok.

 

Yukk, selamat makan siang semaunya.

Pagar

Pagar

Tiba-tiba kemarin rumahku dikelilingi pagar. Pagar tinggi nan rapat dan ujungnya tajam itu membuatku tak bisa leluasa memandang indahnya jalanan dan hamparan luas di depan rumah.

Sebenarnya sudah lama aku merasa tak aman akan adanya ancaman keselamatan yang terus menerus menerpa rumahku. Itu semuanya dikarenakan rumahku tak berpagar. Ketika memberanikan diri berdiskusi dengan orang rumah bahwa aku curiga akan ada maling malam ini, ternyata anggota rumah memutuskan rumah kita harus berpagar.

Dan terbukti, malam harinya ketika aku tidur pagar pun disiapkan dan ketika pagi nya aku bangun pagarpun terbentang tinggi di depan rumahku.

Aku mungkin nyaman dengan pagar ini karena aku merasa dilindungi. Tapi, di satu sisi aku jadi tidak bisa merasakan lagi indahnya pemandangan di luar rumah sekeliling kompleks. Dan rasanya sekarang aku mulai merasakan malas sekali untuk pergi ke luar rumah.

Pagar bisa membatasi kegiatan aku antara di rumah dan luar rumah. Oh, apakah pagar itu bisa membatasi area lingkungan brmain di luar rumahku?

Apakah dengan adanya pagar, saya jadi tidak bisa keluar rumah?

Apakah dengan adanya pagar yang sering dikunci itu akan membuat saya keluar rumah dengan memanjatnya?

Apakah tidak ada cara lain untuk menembus dunia luar?

Siapa yang bisa membuka pagar rumah saya selain anggota rumah? Jika iya, dia hebat. Akupun kadang susah untuk membukanya.

Tolong buka pagar sedikiit saja untuk hari ini. Saya ingin sedikit merasakan dunia luar rumah dengan menghirup udara pagi yang segar.

Selamat pagi, pagar tinggi nan menjulang.

Mengubur 1 Impian.

Mengubur 1 Impian.

Hari ini saya bisa bernafas sedikit lega karena jadwal ngajar memang kosong. Itu artinya saya bisa bersantai mengerjakan hal santai yang ingin saya kerjakan. Hal itu dimulai dengan membaca novel komedi ringan milik @Radityadika. Entah mengapa rasanya saya suka dan tertarik dengan isinya. Novel yang satu ini sudah mulai mengarah ke gaya analogi dewasa. Dika memang menyuguhkan setiap akhir tulisan di bab nya dengan pesan moral. Ciamik sekali, walaupun ringan bahasanya tapi selalu ada pesan moral yang cukup men #jleb kan hati saya di pagi hari.

Rencana kedua untuk mengisi dan mempelajari soal-soal dari sebuah lembaga kursus ternama yang tadinya akan dilakukan setelah membaca novel ternyata pun pupus. Saya tiba-tiba mendapat telepon dari kerabat sesama calon pegawai bahwa dia TIDAK DITERIMA sebagai pegawai karena satu hal. Saya shocked sekali mendengar dia berkata seperti itu. Dan saya tahu alasan terbesar lembaga itu tidak mempekerjakan teman saya. Bagaimana tidak? Kami berjuang memenuhi segala apa yang diperintah oleh si pimpinan tetapi nyatanya teman saya gagal berjuang. Dia berkata bahwa dia yakin saya akan diterima. Saya pun merasakan gugup luar biasa memandangi layar handphone, berharap ada kabar masuk dari lembaga kursus ternama itu. Saya juga belum yakin oleh apa yang teman saya katakan, toh saya dan dia mempunyai alasan yang lain selain bekerja di lembaga kursus itu.

DAN

Sms di layar handphone pun muncul yang langsung ku pencet dengan ekstra hati-hati sambil menutupi layarnya dan membukanya sedikit-sedikit. (Oh sorry, itu lebay) :P

Ok, saya tarik nafas, dan mencoba menatapi layar handphone berkali-kali. Ke atas dan ke bawah. Lemas tak percaya membacanya, ternyata…

Saya TIDAK DITERIMA juga.

Ya, saya memang sedikit kecewa sama lembaga kursus ternama ini. Perjuangan tak lagi bisa saya ukur untuk memenuhi semua apa yang diperintahkan demi menjadi seorang pegawai.

Setiap dipanggil untuk sebuah micro teaching saya selalu tidak dalam keadaan yang tepat. Pernah saya sedang bermain ke rumah seorang teman (kebetulan hari itu tidak ada ngajar) dan tiba-tiba HRD dari lembaga itu menelpon saya yang sedang berada di rumah teman dengan memakai pakaian bukan untuk seorang pengajar. Walhasil saya harus meminjam baju resmi ke teman saya dan harus kehujanan dengan setengah basah kuyup ketiksa sampai lembaga itu. Mengesalkan karena basah tetapi menantang juga. Saya harus bisa untuk sebuah micro teaching. Dan hasil kebasahan pun ternyata berbuah manis, saya lulus tahap micro teaching berikutnya. Dan untuk yang kedua kalinya micro teaching berikutnya pun saya dipanggil mendadak dalam keadaan kurang tepat (lagi). Saya sedang mengantar teman ke sebuah mall dan (lagi) sedang tidak memakai baju resmi. Kemarin sih saya bisa pinjam teman, karena sedang berada di rumah teman. Kali ini? Ga mungkin karena terburu waktu. Walhasil beli baju dan celana dadakan terjadi juga. Demi siapa? Demi lembaga itu juga. Dan lagi-lagi perjuangan saya berbuah hasil. Saya lanjut ke micro teaching selanjutnya. Berbekal pengalaman tidak tepat saat dipanggil micro teaching hari ke tiga saya putuskan untuk diam di rumah, dan ternyata benar, saya dipanggil lagi. Saya pergi ke lembaga itu dengan riang gembira dan dandanan tertata rapi. Lolos lagi. Alhamdulillah. Hari keempat saya sudah merencanakan sebaik mungkin. Karena ada panggilan psikotes di salah satu sekolah ternama, saya berencana untuk melakukan psikotes yang saya kira hanya beres 2 jam itu dengan santai. Ternyata, psikotes kerja yang baru saya lakukan pertama kali itu memakan waktu 5,5 jam. Saya panik luar biasa. Soalnya saya yakin, lembaga itu akan menelpon saya mendadak(lagi) untuk menyuruh micro teaching untuk kesekian kalinya di sore hari. Kepanikan bertambah ketika di tengah-tengah mengerjakan psikotes, hp saya bergetar terus menerus menunggu saya mengangkat telepon itu. 16 kali panggilan tak terjawab yang membuat saya resah tak terhingga yang berakibat pada tidak konsentrasinya menulis jawaban. 10 jawaban tidak saya isi karena saking panik dan bingungnya ingin menjawab telepon dan tidak boleh. Ini karena siapa saya jadi tidak konsen mengerjakan psikotes? Lembaga itu.

Ah, lama-lama saya merasa kesal dengan lembaga itu. Saya hampir seminggu diburu malam, pulang ke rumah untuk sekedar micro teaching. Sampai saya sempat mempunyai pemikiran bahwa saya rasanya telah dikerjai dulu sebelum diterima. Tapi kalau memang itu prosedur, saya terima.

Cuma, rasanya setelah digantung terus. Ketika di interview saya harus memilih antara melanjutkan kuliah ke s2 atau bekerja disini itu adalah pilihan berat. Saya ternyata dibuat dilema. Dan pada akhirnya saya diputuskan secara sepihak karena saya tidak bisa kerja sambil kuliah lagi.

Pengorbanan dan perjuangan memang tidaklah cukup untuk membayar semua keputusan yang saya katakan. Semuanya pasti ada konsekuensinya. Rasa kecewa dan kesal mendalam memang tidak akan pernah padam jika mengingat semua ini.

Tapi, semua balik lagi pada diri kita masing-masing. Intinya, mencari pekerjaan itu ternyata sulit. Kalian yang sudah mempunyai pekerjaan yang baik, janganlah disia-siakan. Masih banyak teman-teman disana yang meraung-raung mengeluh membutuhkan pekerjaan. Bersyukurlah. Apapun itu pekerjaanmu, mau cocok atau tidak cocok bersyukurlah.

Mungkin itu artinya saya harus lebih fokus untuk merencanakan kuliah lagi. Agar semuanya tertata jelas.

Terimakasih ya, kalian telah membuat saya belajar (lagi) hari ini tentang keikhlasan.  Saya harus mengubur 1 impian untuk menempatlan diri di 1 impian lain yang lebih baik. Bismillah.

Selamat malam semua :)