Hari ini saya bisa bernafas sedikit lega karena jadwal ngajar memang kosong. Itu artinya saya bisa bersantai mengerjakan hal santai yang ingin saya kerjakan. Hal itu dimulai dengan membaca novel komedi ringan milik @Radityadika. Entah mengapa rasanya saya suka dan tertarik dengan isinya. Novel yang satu ini sudah mulai mengarah ke gaya analogi dewasa. Dika memang menyuguhkan setiap akhir tulisan di bab nya dengan pesan moral. Ciamik sekali, walaupun ringan bahasanya tapi selalu ada pesan moral yang cukup men #jleb kan hati saya di pagi hari.
Rencana kedua untuk mengisi dan mempelajari soal-soal dari sebuah lembaga kursus ternama yang tadinya akan dilakukan setelah membaca novel ternyata pun pupus. Saya tiba-tiba mendapat telepon dari kerabat sesama calon pegawai bahwa dia TIDAK DITERIMA sebagai pegawai karena satu hal. Saya shocked sekali mendengar dia berkata seperti itu. Dan saya tahu alasan terbesar lembaga itu tidak mempekerjakan teman saya. Bagaimana tidak? Kami berjuang memenuhi segala apa yang diperintah oleh si pimpinan tetapi nyatanya teman saya gagal berjuang. Dia berkata bahwa dia yakin saya akan diterima. Saya pun merasakan gugup luar biasa memandangi layar handphone, berharap ada kabar masuk dari lembaga kursus ternama itu. Saya juga belum yakin oleh apa yang teman saya katakan, toh saya dan dia mempunyai alasan yang lain selain bekerja di lembaga kursus itu.
DAN
Sms di layar handphone pun muncul yang langsung ku pencet dengan ekstra hati-hati sambil menutupi layarnya dan membukanya sedikit-sedikit. (Oh sorry, itu lebay)
Ok, saya tarik nafas, dan mencoba menatapi layar handphone berkali-kali. Ke atas dan ke bawah. Lemas tak percaya membacanya, ternyata…
Saya TIDAK DITERIMA juga.
Ya, saya memang sedikit kecewa sama lembaga kursus ternama ini. Perjuangan tak lagi bisa saya ukur untuk memenuhi semua apa yang diperintahkan demi menjadi seorang pegawai.
Setiap dipanggil untuk sebuah micro teaching saya selalu tidak dalam keadaan yang tepat. Pernah saya sedang bermain ke rumah seorang teman (kebetulan hari itu tidak ada ngajar) dan tiba-tiba HRD dari lembaga itu menelpon saya yang sedang berada di rumah teman dengan memakai pakaian bukan untuk seorang pengajar. Walhasil saya harus meminjam baju resmi ke teman saya dan harus kehujanan dengan setengah basah kuyup ketiksa sampai lembaga itu. Mengesalkan karena basah tetapi menantang juga. Saya harus bisa untuk sebuah micro teaching. Dan hasil kebasahan pun ternyata berbuah manis, saya lulus tahap micro teaching berikutnya. Dan untuk yang kedua kalinya micro teaching berikutnya pun saya dipanggil mendadak dalam keadaan kurang tepat (lagi). Saya sedang mengantar teman ke sebuah mall dan (lagi) sedang tidak memakai baju resmi. Kemarin sih saya bisa pinjam teman, karena sedang berada di rumah teman. Kali ini? Ga mungkin karena terburu waktu. Walhasil beli baju dan celana dadakan terjadi juga. Demi siapa? Demi lembaga itu juga. Dan lagi-lagi perjuangan saya berbuah hasil. Saya lanjut ke micro teaching selanjutnya. Berbekal pengalaman tidak tepat saat dipanggil micro teaching hari ke tiga saya putuskan untuk diam di rumah, dan ternyata benar, saya dipanggil lagi. Saya pergi ke lembaga itu dengan riang gembira dan dandanan tertata rapi. Lolos lagi. Alhamdulillah. Hari keempat saya sudah merencanakan sebaik mungkin. Karena ada panggilan psikotes di salah satu sekolah ternama, saya berencana untuk melakukan psikotes yang saya kira hanya beres 2 jam itu dengan santai. Ternyata, psikotes kerja yang baru saya lakukan pertama kali itu memakan waktu 5,5 jam. Saya panik luar biasa. Soalnya saya yakin, lembaga itu akan menelpon saya mendadak(lagi) untuk menyuruh micro teaching untuk kesekian kalinya di sore hari. Kepanikan bertambah ketika di tengah-tengah mengerjakan psikotes, hp saya bergetar terus menerus menunggu saya mengangkat telepon itu. 16 kali panggilan tak terjawab yang membuat saya resah tak terhingga yang berakibat pada tidak konsentrasinya menulis jawaban. 10 jawaban tidak saya isi karena saking panik dan bingungnya ingin menjawab telepon dan tidak boleh. Ini karena siapa saya jadi tidak konsen mengerjakan psikotes? Lembaga itu.
Ah, lama-lama saya merasa kesal dengan lembaga itu. Saya hampir seminggu diburu malam, pulang ke rumah untuk sekedar micro teaching. Sampai saya sempat mempunyai pemikiran bahwa saya rasanya telah dikerjai dulu sebelum diterima. Tapi kalau memang itu prosedur, saya terima.
Cuma, rasanya setelah digantung terus. Ketika di interview saya harus memilih antara melanjutkan kuliah ke s2 atau bekerja disini itu adalah pilihan berat. Saya ternyata dibuat dilema. Dan pada akhirnya saya diputuskan secara sepihak karena saya tidak bisa kerja sambil kuliah lagi.
Pengorbanan dan perjuangan memang tidaklah cukup untuk membayar semua keputusan yang saya katakan. Semuanya pasti ada konsekuensinya. Rasa kecewa dan kesal mendalam memang tidak akan pernah padam jika mengingat semua ini.
Tapi, semua balik lagi pada diri kita masing-masing. Intinya, mencari pekerjaan itu ternyata sulit. Kalian yang sudah mempunyai pekerjaan yang baik, janganlah disia-siakan. Masih banyak teman-teman disana yang meraung-raung mengeluh membutuhkan pekerjaan. Bersyukurlah. Apapun itu pekerjaanmu, mau cocok atau tidak cocok bersyukurlah.
Mungkin itu artinya saya harus lebih fokus untuk merencanakan kuliah lagi. Agar semuanya tertata jelas.
Terimakasih ya, kalian telah membuat saya belajar (lagi) hari ini tentang keikhlasan. Saya harus mengubur 1 impian untuk menempatlan diri di 1 impian lain yang lebih baik. Bismillah.
Selamat malam semua